Labels

daniera (118) kanazawa (7) nada (92) pengetahuan umum (6) profesi guru (1) puisi (16) skripsi (1)
Tampilkan postingan dengan label daniera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label daniera. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Agustus 2014

Langitnya Gelap, Ri

Mendung.
Pertama melintas taman itu mendung.
Langit cerah tertutup awan gelap, Ri.
Tak lama kemudian, hujan turun.
Turunnya deras sekali, Ri.
Di sana banyak kulihat.
Ada kepasrahan atas apa-apa yang menjadi basah.
Ah, bahkan tanah-tanah pun menjadi becek.
Ada ketakutan dari setiap petir yang menggelegar.
Ada kesejukan dari tetesan yang tersentuh kulit.
Ah, tapi kemudian sejuk itu berubah menjadi dingin.

Cukup lama hujan turun dengan derasnya, Ri.
Cukup lama juga aku menyaksikan berbagai pemandangan.
Kepasrahan, ketakutan, dan kesejukan.

Pada akhirnya hujan berhenti, Ri.
Ya, hujannya berhenti.
Tapi yang berubah hanya pemandangan bulir-bulir air dari langit.
Tak ada lagi yang berjatuhan.
Aneh, Ri.
Mendungnya masih ada.
Bahkan kurasa lebih pekat dari sebelum hujan turun.

Sekarang, langitnya malah gelap.
Ya, sekarang langitnya gelap, Ri.
Ah, tidak, maksudku belum terlalu gelap, Ri.
Baru mulai gelap.

Eh? Tapi kemudian aku lihat bias sinar matahari, Ri.
Matahari yang tenggelam.
Semburat merah tiba-tiba saja menjadi pemandangan.
Di ujung langit yang masih dapat kulihat.
Di batas senja yang sebentar lagi benar-benar gelap.
Ah, sungguh syahdu pemandangan ini, Ri.
Aku suka sekali.
Ternyata aku suka, Ri.
Aku berharap tak berlalu.
Tapi itu tidak mungkin, Ri.
Semburat merah nan indah itu hanya sebentar saja di batas senja.
Karena sekarang langitnya gelap, Ri.

Kamis, 16 Januari 2014

Terimakasih, Lia

Aku cuma mau mengucapkan terimakasih, Lia.

Atas semua waktumu bersamaku.
Atas kesediaanmu mendengar kisahku.
Atas sabarmu di setiap isakku.
Atas semua...

Aku cuma mau mengucapkan terimakasih, Lia.

Jangan pernah tinggalkan aku.
Kamu tahu maksudnya kan?
Jangan pernah tinggalkan hatiku.
Kita akan selalu bersama, bukan?
Kamu tentu tahu, bukan kebersamaan fisik kumaksud.

Aku cuma mau mengucapkan terimakasih, Lia.

Aku tahu aku pernah torehkan luka di sana, di tempat teramat lembut, hatimu.
Aku tahu kau ingat bahwa aku pernah diamkanmu, seolah acuhkanmu.
Aku tahu kau tahu bahwa aku pernah kecewakanmu, menghindarimu.
Tapi, aku tahu bahwa kau tahu aku tak pernah bisa jauh darimu.
Aku mencintaimu, Lia.

Bukankah kita pernah sepakat.
Bahwa mencintai itu mulai dari menerima hal-hal yang menyebalkan.
Bahwa mencintai itu mengerti walaupun hati kesal.
Dan sisanya, hal-hal menyenangkan, pengertian, pemahaman, hanya bonus.

Ah, bersamamu aku mengerti.
Terimakasih, Lia.

Minggu, 29 Desember 2013

Jangan Bersedih, Lia

Tidak semua yang katakan mengerti itu benar-benar memahamimu, Lia.
Tidak semua yang mendengar itu benar-benar menyimak, Lia.
Tidak semua, sungguh tidak semua.

Tapi satu hal yang harus kau ingat, Lia. 
Aku, di sini selalu akan menjadi orang yang berusaha paling memahami dan menyimakmu, Lia.
Tak peduli apapun yang mereka katakan padaku. Aku mencintaimu dengan hatiku, dan kamu tahu itu, Lia.

Saat rasanya dunia akan runtuh, jangan lupa bahwa masih ada aku di sini, masih ada kamu di hatiku, Lia. 

Kita yang tak perlu bertemu untuk dapat saling berjumpa.
Kita yang tak perlu bicara untuk dapat saling mendengar.
Kita yang tak perlu cahaya untuk dapat saling melihat.

Kamu tahu?
Karena perjumpaan itu ada dalam rasa kita.
Karena ucapan itu terhubung dalam benak kita.
Karena cahaya itu ada di hati kita. Ah, rasanya cahaya itu mungkin dari hatimu, namun karena begitu kuatnya, cahayanya juga terangi hatiku. Terimakasih, Lia.

Apapun luka yang kauperoleh, jangan bersedih, Lia. 

Minggu, 17 November 2013

Sakura yang Terluka

Semalam.
Aku lihat jelas kepedihan itu di wajahmu.
Aku rasakan dingin menyelubung lenganmu.
Aku terhenyak, tak mampu bicara.

Air matamu, ya, air matamu.
Mengalir begitu derasnya.
Membawa setiap peluh untuk jatuh.
Mengiringi perih di hati.
Aku, merasakannya juga.

Air mata di wajahmu, perih di pipiku.
Sendu di matamu, ngilu sungguh keningku.
Sakit di hatimu, sungguh aku tahu.
Aku juga rasakan itu, rasakan rasamu.
Rasakan perihmu, rasakan sakitmu.

Dan aku benci.
Aku terdiam, tak lagi berbuat apa.
Menyaksikan itu semua.
Melukai diriku sendiri dalam heningku.
Aku, sakura yang terluka.

Senin, 14 Oktober 2013

Surat Cinta 1

Surat ini kutuliskan untukmu, wahai rasul Allah, solawat dan salam selalu tercurah untukmu, semoga kelak aku mendapatkan syafaatmu.

Ya rasulullah, di malam idul Adha ini, sungguh tak bisa kutahan lagi. Begitu banyak perasaan perih dan pilu mendengar berita tentang negeriku. Kecewa, sedih, marah, kesal, semuanya menjadi suatu kesatuan yang buatku terkadang sulit tertidur dengan tenang.

Ya rasulullah, engkau adalah manusia yang paling mulia di sisi-Nya, sesungguhnya segala petunjuk dalam menjalani kehidupan telah kau berikan. Indonesia, iya, Indonesia adalah negeriku, ya rasul Allah. Di Indonesia umatmu memiliki kapasitas jumlah yang dominan, yang mayoritas, yang banyak sekali. Tapi, sungguh pilu aku mendengar semua tentang negeriku sendiri ya rasul... Saat suatu provinsi telah dikuasai oleh satu keluarga, saat semua pejabat tak lagi memegang keyakinan agama yang dianutnya, tak lagi menjalankan amanat sebagaimana yang seharusnya diteladani darimu, wahai rasul Allah. Sungguh pilu...

Wahai manusia yang paling sempurna, adakah satu keyakinanku dapat mengubah suatu ketidakberesan itu semua? Apakah tekad memperbaiki itu dapat menyebar dari orang-orang yang tengah merindukanmu juga merindukan-Nya kini di Indonesia? Belakangan ini banyak orang-orang yang dekat denganmu, dekat dengan-Nya, begitu cepat mereka dipanggil kembali, untuk bersegera berada di sisi-Nya. Apakah karena Dia yang Maha Kuasa tahu, bahwa bangsa Indonesiaku tak dapat diperbaiki lagi? Sehingga Dia sang Khalik tak ingin menempatkan manusia yang mencintai-Nya berada di tengah-tengah bangsa yang sedang carut-marut ini, ya rasulullah? Mengapa....

Wahai engkau manusia yang paling bersinar, aku sadari jauh sekali moral bangsa dari nilai-nilai Islam yang engkau ajarkan, ya, jauh sekali dari jumlah orang-orang yang mengaku Islam, sungguh malu aku. Di manakah yang salah? Ya rasul, sebagian aku adalah pendidik, pendidik bagi anak-anakku kelak dan pendidik bagi siswa-siswaku, mahasiswa-mahasiswaku kelak, dan sebagian besar pemuda yang nantinya melanjutkan keberadaan bangsa ini... Apa yang harus kulakukan? Saat semua karakter muslim yang harusnya dibentuk bahkan sejak sebelum sekolah dasar, sirna begitu saja saat memasuki dunia yang sesungguhnya. Apakah bangsaku sudah tak memiliki harapan? Ah, sungguh mengerikan sekali karena sampai saat ini negeriku masih sesuai dengan tulisan A.A. Navis, iya, dalam tulisannya "Robohnya Surau Kami." Mengapa pula tulisan puluhan tahun lalu itu tetap sama, bukankah itu menandakan suatu kemunduran suatu bangsa? Saat banyak yang tak lagi peduli pada ajaran agama, tak lagi jalankan apa yang kau contohkan hanya dunia yang mereka kejar, di saat yang bersamaan ada pula mereka yang begitu menggila pada janji-Nya kemudian tak lagi peduli pada dunia, tak lagi peduli pada keluarga, masa bodoh pada masa depan bangsa, tak lagi hiraukan harga diri, karena yang mereka yakini hanya dengan memuji-Nya kemudian surga jaminannya? Padahal Dia yang Maha Suci sungguh tak gila pada pujian. Ah, yang seperti itu tulisan puluhan tahun lalu, kemudian "Haji Soleh" itupun tetap terlempar di dasar neraka api yang panas. Dan sekarang, dan sekarang bahkan banyak yang menjalankan ibadah kepada-Nya bukan lagi menggila pada janji-Nya, bahkan dengan beraninya memamerkan bahwa semua itu adalah topeng belaka. Ah, sungguh mau jadi apa bangsaku kelak.

Wahai engkau manusia teladannya manusia, aku berharap aku dapat membuat perubahan sekecil apapun pada anak-anakku kelak, pada siswa-siswaku, mahasiswa-mahasiswaku kelak, menyadarkan semua, bahwa sudah saatnya bangsa ini bangkit dari keterpurukan, bahwa banyak hal yang perlu diperbaiki, bahwa butuh waktu yang tidak sebentar untuk membangun semua itu, bahwa waktu itu tak akan pernah terkejar jika tak pernah dimulai...

Wahai rasul rahmat semesta alam, sungguh aku malu mengadukan ini, sungguh malu, tapi aku tahu, masih ada harapan untuk bangsaku, masih ada.

Surat cinta ini, dariku, yang merindumu.

Kamis, 16 Mei 2013

Air Bening (Air Putih)

Dear my beloved sister....

Apa kabar? Aku merindukanmu. Dan kamu tahu itu. Terimakasih untuk waktunya, dan terimakasih untuk sayangmu padaku. Aku tahu, kamu yang tidak akan pernah meninggalkanku saat aku terjatuh. Kini aku mungkin tak dapat katakan aku telah menjadi baik atau baik-baik saja. Tetapi setidaknya aku ingin memulai suatu yang disebut baik, dan aku berharap memang benar-benar menjadi suatu kebaikan. Aku harapkan doamu untukku. Dan aku tahu, kamu begitu percaya padaku untuk belajar dari semuanya secara langsung, kamu biarkan aku untuk belajar tentang menyikapi hidup tanpa mengguruiku. Maafkan aku jika kamu ikut menangis dalam lukaku. Sungguh, aku sudah merasa lebih baik. Jangan khawatirkan aku, dan tentu jangan pernah berhenti doakan yang terbaik untukku.

Kamu tahu, kan? Aku suka Juice alpukat, aku juga suka air jeruk. Mungkin itu yang kualami dan aku konsumsi selama ini. Begitu berasa, begitu menggugah selera, seperti menghilangkan dahaga di tengah terik. Namun kini mungkin tak apa aku berhenti meminum semua minuman berasa itu dan mulai mencoba air bening (air putih). Kamu tahu, alasannya?

Air bening (air putih) memang tak berwarna, tak berasa, dan cepat membuat bosan. Tapi aku percaya, air itu lebih menyehatkan.

Doakan aku, agar Allah swt. berkehendak memberikanku kesabaran untuk terus mengonsumsi air bening (air putih) yang menyehatkan itu.

Dariku, yang merindukanmu,
Your beloved sister.

Minggu, 28 April 2013

Aku Bisa Merasa

Kamu tahu?
Rasanya pedih...
Aku kehilangan dan
Aku bisa merasakan pedih yang kamu rasakan...

Kamu tahu?
Di sini aku tak henti mendoakanmu.
Semoga yang terbaik untukmu.
Aku yakin, dia pergi karena dia sayang kamu.

Kamu tahu?
Dia inginkan kamu tetap bertahan.
Dia tahu kamu sakit.
Dia tak mau semua tertuju padanya, dan
kemudian lalai padamu.
Dia amat mencintaimu.
Kamu harusnya bahagia, kan?
Kamu dicintai olehnya.
Aku juga mencintainya...

Maafkan aku jika harapku atas hadirnya begitu besar.
Maafkan aku jika aku tak bisa ikut menjaganya, menjagamu,
menjaga kalian berdua.

Aku tak akan tanyakan dia
dan kepergiannya, yang selamanya.
Aku bisa merasa
perihmu, sakitmu, sungguh
Aku bisa merasa

Satu pintaku, optimismu atas semua.
Sangkaan yang baik atas keputusan-Nya,
Dan semua yang kamu ajarkan padaku,
Aku bisa merasa....

*For my sister...
Semoga Allah memberikan kesembuhan dan kesehatan padamu, selalu

Kamis, 28 Maret 2013

Tak Ada Alasan

Tak ada alasan untuk menyerah.
Tak ada alasan untuk bersedih.
Tak ada alasan untuk menangis berkelanjutan.

Aku pernah mengalami hal yang lebih memilukan.
Bahkan saat aku benar-benar sendiri.
Maka harusnya aku lebih siap.

Aku pernah mengalami hal yang lebih perih.
Bahkan saat aku tak tahu menghentikan nanahnya.
Maka harusnya aku usah bersedih.

Aku pernah mengalami hal yang lebih menyakitkan.
Bahkan saat aku tak tahu siapa saja yang mendukungku.
Maka harusnya aku tiada perlu menangisi ini.

Rabu, 20 Februari 2013

Tak Ingin Buta

Percakapan suatu sore denganmu, di ruangan yang tak berhentinya suara server mendesing....

A: Jadi, kamu nggak suka kalo aku lakukan itu?
E: Ya, tentu saja! 
A: (wajahmu tiba-tiba murung) Jadi... Nggak suka?
E: Ya.
A: Kenapa? 
E: Memangnya kamu pikir kenapa?
A: Aku pikir kamu akan selalu suka apa yang aku lakukan.
E: Kali ini aku tidak suka. 
A: Tapi, kenapa? Bukankah kita...
E: Aku hanya tak mau menjadi buta karena rasa.
A: Lalu? (kamu semakin cemberut)
E: Tentu aku tetap sayang kamu, seperti yang telah aku katakan malam itu. Tapi hal itu bukankah kamu sudah tahu aku tidak suka? Bahkan sebelum kita bersama? Aku tidak membenci itu, tapi aku tidak suka. Dan aku tidak akan menjadi suka, walaupun itu padamu. Aku hanya tak ingin menjadi buta karena rasa...
A: (senyummu menyungging lebar) Terima kasih ya.... Aku sayang kamu...
E: Aku sayang kamu, dan kamu tahu itu.
A: Kamu tahu? Hadirmu buatku banyak lupakan itu.
E: Aku tahu, kamu pasti lebih tahu dari aku. Satu hal, aku sayang kamu.

***

Minggu, 10 Februari 2013

Belum Seminggu

Hari ini, hari Minggu....
Belum genap benar seminggu sejak kamu katakan kalimat yang buatku terbuai, sungguh. Tapi kemudian kamu buatku terkejut bukan main. Menghadapi mereka seperti menghadapi ujian seleksi bagiku. Ah, semoga saja aku tidak salah tingkah di depan mereka. ah, semoga saja aku tak salah bicara di depan mereka. Ah, aku terlalu memikirkannya!

Minggu, 23 Desember 2012

Telepon

Dev! Tadi teleponku diangkat, Dev! Aku senang sekali. Akhirnyaaa,... setelah kesekian kalinya, aku bisa mendengar suara itu lagi, lewat telepon.

Ya, aku tahu itu.

Dan... Tadi ada sekitar 6 menit aku bicara dengannya. Cukup lama kan, Dev? Haha.

Bukankah dulu satu jam pun tak cukup untuk kalian?

Ya sih. Tapi, tapi kali ini beda. Bahkan sepertinya itu adalah hal yang luar biasa untukku saat ini.

Kenapa? Kamu tak berani berpikir bahwa itu tak sengaja ia angkat? 6 menit itu tentang perjalanan, kan? Kuharap kamu ingat apa alasan yang disebutkannya tadi. Bukan untuk bersamamu.

Itu... Tadi dia memang katakan alasan lain, tapi itu... Menurutku itu hanya gurauan saja, dia katakan itu sambil tertawa, Dev...

Kamu selalu membuat pembelaan terhadapnya.

Aku terlalu mencintainya.

Kamis, 20 Desember 2012

Lebih dari Senyawa Karbon

Teringat percakapan dengan guru Kimia saat itu. Hmmm, sederhana saja, tak sengaja aku mendengarnya sedang menjelaskan tentang ikatan karbon. Dan tak kusangka, ternyata dia tahu aku sedang mendengarkannya, hihihi.

"Jadi, begitu kan, kak Dewi?"
"Apanya yang begitu, Kak?"
"Yaaa, itu, senyawa karbon, tunggal tuh menjenuhkan."
"Hmmm, itu pasti, kak. Dan ikatan rangkap itu adalah yang tidak jenuh."

Matanya mendelik. Sudah mulai terlihat dia mengajakku untuk berpuitis. Kemudian, akhirnya kuputuskan untuk meladeni apa yang ia mulai.

"Iya, benar, Kak. Dan sebagai guru Kimia mungkin Kakak lebih tau dari aku." Kemudian aku menarik napas sebentar, sebelum akhirnya kumelanjutkan. Dia kemudian memasang wajah serius, dengan cermat seperti menanti setiap kata dariku.

"Mungkin seperti sepi, dan sepi itu jenuh, dan seperti itulah ikatan tunggal dalam karbon. Ikatan rangkap memang akan membuat senyawa tak jenuh. Tetapi ada satu hal yang lebih penting dari itu, Kak.

Bahwa kita lebih dari senyawa karbon.

Jadi, permasalahannya bukan hanya tunggal atau rangkap, single atau double. Permasalahannya lebih kompleks dari itu, Kak. Kita lebih dari sekedar senyawa karbon."

Untuk beberapa detik, wajahnya seperti terpana dengan apa yang kukatakan. Dan kemudian dia bersorak keras sekali. Dan akhirnya dia tertawa, diikuti tawa riang pengajar-pengajar lain.

"Harusnya kau itu ambil master sastra di Belanda atau Perancis sana, Wi! Bukan ambil Fisika! Pandai sekali kau mengukir kata!"

"Hahaha, bisa saja. Semua kan Kau yang memulai, Kak!" dengan logat batak yang aku paksakan. Dan dia malah tertawa geli mendengarkan aku bicara seperti itu.

Jumat, 07 Desember 2012

UGD


Tidak seperti biasanya, sore ini aku mengemudikan mobil dengan ugal-ugalan. Kubunyikan klakson hampir pada setiap kendaraan yang ada di depanku. Tak peduli pada klakson balasan dari pengemudi lain yang aku dahului, pun pada banyak pengendara motor yang mengomel karena kaget dan risih dengan ulahku. Tujuanku satu, tiba secepatnya di RS Sari Asih Ciledug. Nama rumah sakit itu jelas terbaca pada pesan yang akhirnya terbalaskan setelah aku gelisah sepanjang hari ini.
****
Tempat bimbingan belajar ini masih sama seperti saat pertama kukenalkan kamu pada mereka, sebagai kakakku tentunya. Selalu ada tawa riang siswa yang akhirnya berhasil menyelesaikan tugas dari sekolah mereka, juga selalu ada canda dari staf dan pengajar lainnya. Namun, hari ini terasa berbeda. Setelah selesai mengajar, aku duduk-duduk dan membaca buku di ruang tunggu dekat receptionist, sambil sekali-kali melirik ponsel, menunggu pesan balasan darimu, yang sebelumnya memperkirakan akan tiba pukul 5 sore. Sampai satu jam berlalu dari pukul 5, semua siswa, pengajar, dan staf telah pulang, kecuali satu orang staf yang mendapat tugas piket sampai malam. Hari ini jadwal belajar memang hanya sampai pukul 5. Cahaya matahari sore pun berlalu dan berangsur mulai menyisipkan gelap.

“5 menit lagi, jalan macet, sabar ya. Kamu masih di Ganesha, kan?” Akhirnya kamu mengirim pesan.
“Iya, gak apa-apa, kak, aku masih di sini kok nunggu kakak.” Aku balas cepat.

Aku simpan buku yang sejak sore kubaca, sekarang aku hanya menoleh ke arah jendela luar, hanya ingin menunggu kamu. Mataku hanya terfokus pada pintu gerbang masuk, sampai akhirnya ada sorot lampu motor. Ah! pasti itu kamu. Aku tersenyum. Akhirnya aku bisa bersama kamu, berdua, bersama, setelah tiga bulan aku melewatkan dan menelantarkanmu. Begitulah ‘istilah’ yang kamu tudingkan padaku. Padahal aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir pada skripsiku, dan aku tahu kesibukanmu melanjutkan studi di Bandung, juga sekedar ingin menyelesaikan tugas akhirku sendiri, karena kuyakin kamu membantuku di setiap doamu.
“Maaf, Kakak lupa, Jakarta sore hari itu macetnya luar biasa.”
“Iya, gak apa-apa. Kita main ke sebelah aja yuk, Kak?”
“Oh, boleh. Iya, jangan jauh-jauh, supaya waktu sama kamunya agak lama, hehe.”

Seperti biasa, matamu selalu berbinar saat bertemu. Tapi ada yang berbeda, tiga bulan tak berjumpa sepertinya kamu lebih gemuk, terlihat dari pipi kamu. Kamu mengenakan kaos abu-abu lengan panjang, berjaket jeans, tampilan sederhana yang menjadi ciri khas. Jika dilihat dari belakang, pasti tidak akan ada yang menyangka itu adalah kamu, kakakku, teman bermain, sahabatku.
“Mas Andi! Kenalkan ini teman aku, sekalian aku mau pamit pulang. Terima kasih ya.”

Setelah selesai berpamitan dengan staf yang kebagian tugas piket, aku bersegera memakirkan motor ke mall yang yang dekat dengan tempat bimbel ini, bersamamu.
“Kita minum coklat aja yuk, Kak?”
“Iya, kebetulan Kakak juga mau makan donut.”

Sepanjang jalan menuju kafe kugenggam tanganmu. Dingin, ya, dari dulu seperti itu. Kamu tidak kuat dingin.

Kamu tersenyum. Sambil menikmati coklat panas, matamu seperti sedang menimbang sesuatu yang akan dikatakan. Wajahmu terlihat semakin bersih. Tapi, agak pucat menurutku, mungkin pengaruh suasana malam dan dinginnya AC kafe. Aku menunggumu saja yang memulai bercerita.
“Kakak sayang, sayang banget. Kakak kangen, de.” Akhirnya kamu berkata.
“Aku udah tau, Kak, hehe.”

Sudah dapat kutebak, pasti kamu akan katakan kalimat itu. Seberapapun sering aku katakan sudah mengetahuinya, kamu tidak peduli, lalu kamu akan jawab sama seperti yang sudah kutahu pula. Dan merupakan jawaban yang manis, menurutku.

Aku tahu makna lebih berarti dari sekedar kata. Tapi jika kata dapat tumbuhkan makna dan perdalam rasa, maka aku akan katakannya sesering mungkin.

“Memangnya kamu nggak mau bilang sesuatu?”
“Sesuatu? Sesuatu apa? Memang Kakak mau aku bilang apa?”
“Ya... Kalimat yang sama, minimal.”
“Sekarang?”
“Ya. Sekarang. Sebelum nantinya menyesal.”
“Menyesal? Kenapa mesti ada penyesalan?”
“Entahlah. Setidaknya Sebelum Kakak pergi.” Kemudian bibirmu menyunggingkan senyum tajam.
“Pergi? Pergi ke mana?” Aku mulai tak sabar.
“Ya... Pergi jauh, hehe.” Kali ini kamu nyengir.
“Maksudnya? Jepangkah?” Aku benar-benar sudah tak sabar, apalagi melihat ekspresi mukamu yang jahil, melihatku bingung.
“Ya. Kakak lulus tes. Bulan depan berangkat.”
“Ah! Selamat ya, Kakak!”

Aku menghambur untuk memeluknya. Antara bahagia dan sedih tuk melepasnya. Di antara pelukan itu, aku bisikan padanya.
“Aku sayang Kakak. Kakak itu sahabat aku dan saudara aku, tentunya. Aku sayang Kakak.”

Kemudian kulihat keningmu sedikit berkerut,
“Kenapa?”
“Bangetnya, mana?”

Ah! Aku pikir kamu kenapa.
“Aku sayang Kakak, pake banget.”

Kemudian kamu dan aku tertawa bersama. Meluncur begitu saja cerita-ceritamu tentang proses seleksi administratif, kekesalanmu saat mengurus translasi ijazah, kemudian ketegangan saat memilih supervisor, melihat soal ujian, kebingunganmu pada saat wawancara, sampai pada pengumuman hasil tes. Sejujurnya aku bangga memilikimu, setidaknya sampai saat ini aku merasa memiliki hatimu. Dan semoga sampai nanti aku masih memiliki hatimu.

Setelah ceritamu tentang tes itu, kamu menunjukkan video. Video itu sesungguhnya terdiri dari banyak foto, seperti tampilan flash foto-foto, kamu bilang kamu yang mengeditnya, dengan memberikan narasi di setiap foto. Aku melihatnya. Aku melihat video itu. Ternyata isinya foto kamu, fotoku, foto kita, di saat-saat kuliah beberapa semester lalu. Melihat itu, kita tertawa bersama mengenang masa-masa saat aku yakin aku tidak akan pernah sendiri. Keyakinan itu datang karena hadirmu, tentu.

Tapi kebersamaan itu berubah. Menurutmu, akulah penyebabnya. Aku terlalu sering melewatkanmu. Sampai kemudian kamu katakan kamu sudah berjanji pada dirimu sendiri untuk tidak menghubungiku duluan, sebelum aku yang menyapamu. Sebegitunyakah aku berubah? Entahlah. Yang jelas aku masih menyayangi kamu, sebagai sahabat dan saudaraku.

Di tengah-tengah video itu ternyata kamu menyelipkan foto-foto saat kita bersepeda bersama, kehujanan bareng, dan lagu ‘Aku Suka Caramu’. Kemudian kita, entah siapa yang memulai, seolah-olah sedang memuat videoclip lagu itu. Tak peduli pengunjung kafe yang lain melihat atau tidak. Yang jelas aku suka itu. Di akhir putaran lagu, kita melakukan gerakan yang sama. Gerakan tangan layaknya saling menembak dengan dua pistol, namun pistol dilambangkan dengan jari telunjuk dan jempol. Begitu hangatnya kebersamaan kita saat itu.

Ternyata waktu terasa begitu cepat berlalu saat bersamamu. Kusadari malam dari bibirmu yang mulai bergetar kedinginan. Wajahmu tambah pucat. Aku putuskan untuk bersegera pulang. Sebelum berpisah, di parkiran motor itu, kamu memelukku, lebih erat dari biasanya. Sejak saat itu aku berjanji akan berusaha untuk memulai komunikasi lebih dulu, aku akan berusaha menyapamu terlebih dahulu.
****
“Aku ganti foto profil di facebook pake foto kita, ya Kak.”
Pesanku malam itu saat hendak beranjak tidur tak dibalas olehmu.
“Kak? Apa kabar pagi ini? J Love you...”
Pesanku pagi ini juga tak dibalas, mungkin kamu masih tidur. Tapi entah kenapa pagi ini, pikiranku penuh olehmu. Jangan-jangan aku baru sadar, aku juga sangat menyayangimu. Atau aku baru sadar, seharusnya semalam aku memelukmu lebih lama, sebelum kamu pergi jauh, melanjutkan studi di negeri Sakura.
“Dewi di RS Sari Asih di Ciledug. Tadi pagi jatuh. (Lisa, kakaknya).” Akhirnya ada pesan masuk dari nomor ponselmu.

Tanpa pikir panjang, aku ambil kunci mobil, bergegas pergi. Semua ingatanku tentang kamu, tentang semalam, tentang pembicaraan kita yang begitu hangat, tentang masa-masa itu, tentang kamu sekarang, di rumah sakit, semua bercampur. Pikiran-pikiran itu, kenangan-kenangan itu, mampu buat air mataku tak hentinya mengalir selama perjalanan ke rumah sakit.
****

Dalam ruangan itu, kamu terbaring, banyak perban membungkus kepalamu. Matamu terpejam. Mendesir kengerian dalam pikirku. Aku sentuh tanganmu. Aku genggam lembut, Kusentuh pipimu, aku akan mengatakannya, sebelum aku menyesal, begitu, kan, katamu? Begitu kan, inginmu? Mengapa kamu dapat berkata tentang penyesalan, semalam? Mengapa? Air mataku mengalir begitu saja. Aku, ya, aku yang merasa memilikimu.

“Aku sayang banget sama Kak Dewi.” Bisikku sesungguhnya tak lebih dari harapan kamu dapat dengarkan aku. Kamu pernah bilang kita adalah saudara sejiwa, kan? Kita pernah bicara tanpa kata, kan? Di lorong sepi, di lorong sepi kita bertemu. Kamu tidak akan pernah berhenti mencintaiku, kan?

Masih kugenggam jemarimu, rasanya dingin menyekat.

“Aku suka caramu, mencintaiku... Aku suka caramu, buatku tersenyum... Aku suka semua tentangmu...” Bahkan aku sendiri tak dapat dengar suaraku, di tengah isakku. Lagu itu... Kamu ikut bernyanyi denganku, kan?

Jemarimu tergerak, seperti membalas genggamku. Tanganku merasakan suatu yang hangat mengalir di pipimu, air matamu. Sebelum akhirnya aku harus keluar dari ruangan itu.
****
Aku tak percaya. Semalam kamu masih bersamaku. Semalam kita masih bermain telunjuk jempol bersama. Kamu bilang kamu akan melanjutkan studi di negeri Sakura, kan? Kamu bilang akan menungguku di sana? Kamu bilang, kamu cuma pergi sebentar, kan? Atau aku yang salah mendengar.

Maafkan aku melewatkanmu. Terlalu banyak kesempatan bersamamu yang kuabaikan. Jika saja aku tahu kamu akan pergi, tidak untuk setahun, tapi untuk selamanya, aku tentu akan katakan keras-keras, bahwa aku juga sangat menyeyangimu. Kamu adalah sahabat terbaikku. Kamu adalah kakak yang luar biasa bagiku. Kamu akan tetap menjadi bagian yang terbaik di hati ini.***

Lorong Sepi

...

Walau aku ragu, tapi aku putuskan untuk terus masuk menulusurinya. Lorong itu sepertinya panjang, kering, dan menyekap. Namun aku tak ingin kembali, belantara itu lebih menakutkan. Tapi, aku terlanjur masuk tanpa apa, tanpa siapa, sambil berharap kutemukan sesuatu di dalam sana, entah apa, kapan, dan di mana.

...

Belum sempat kubuka kelopak mata, gerakan tanganku mendahuluinya. Kusentuh luka. Mengeras, sepertinya ada yang membeku. Ternyata, dingin yang menyelubung membuat jalinan benang-benang fibrin cepat mengering. Tapi, perihnya masih kurasa.
Ketika aku benar-benar terjaga, mataku menangkap bayangan nyata. Aku masih terduduk, bersandar pada dinding lorong.

...

Saat itu aku merasa kuat. Ada kamu. Aku tidak lagi sendiri di lorong itu. Genangan air di tengah lorong tak akan mampu buatku terjatuh, karena genggammu. Erat, kuat, dan begitu kokoh, seperti tak terpisahkan. Pun tak akan mampu membuatku membeku, karena hadirmu begitu menghangatkan. 

...

daniera~Januari 2012

Sabtu, 01 Desember 2012

Maafkan Aku

Maafkan aku, maafkan aku.
Maafkan aku atas luka yang kutorehkan. Andai saja aku
dapat kembali pada masa lalu, aku akan memilih untuk
tidak pernah mencintaimu, agar tidak harus kamu
rasakan luka. Dan aku? Akan menjadi diriku yang kaku.

Kamis, 29 November 2012

Berawal dari JASSO

JASSO, atau singkatan dari JApan Students Services Organization. Tiba-tiba saja di perpustakaan ITB, sambil menatap langit Bandung yang mendung, saya ingin menuliskan tentang ini...

Semua berawal saat siang tadi saya makan bersama dengan salah satu teman sekelas saya, di jurusan Magister Computational Science. Banyak hal yang kami bicarakan. Sampai kepada topik JASSO. Di Indonesia, JASSO dapat disamakan dengan DikTI atau DikNas, yah semacam itulah.

Kami membahas terkait dengan pendanaan Double Degree Program di Japan yang akan kami jalani, kebetulan teman saya dan saya lulus seleksi :). Mulai dari pelayanan, JASSO terkenal dengan kemudahan akses mendapatkan dana. Tidak pernah dipersulit. Tidak pernah terlambat. Jadi, jika kami mendapatkan pendanaan di Japan nanti dari JASSO, maka kami tentunya tidak akan khawatir saat-saat awal di Kanazawa University.

Setiap kelebihan tentunya ada kekurangan. Beasiswa dari Dikti ternyata sekitar 20rb Yen lebih banyak dari JASSO setiap bulannya. Tapi, tapi, tapi, beasiswa dari Dikti tersebut akan keluar kira-kira setelah 5 bulan di Japan. Whats? Dan 5 bulan awal di sana, dana dari mana? Menghutang tentunya! Hahaha. Agak miris, memang. Padahal terdengarnya masalah sepele, tetapi, tetap saja, yang terkait dari dalam negeri ada istilah 'rapel'. Jadi mungkin kebiasaan yang di turunkan dari orde lama atau orde baru mungkin (loh? kok jadi bahas sejarah). "Mengencangkan ikat pinggang." Atau istilahnya puasa untuk menahan lapar. Demi makan di kemudian hari. Hey! Hello! Sekarang sudah zaman... (zaman apa ya?). Pokoknya bukan zamannya lagi menahan lapar untuk makan di kemudian, menurut saya sekarang zamannya peningkatan gizi untuk mencapai SDM (SUmber Daya Manusia) yang lebih baik lagi! Supaya kita bisa benar-benar ikut berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan! Supaya demo kita tentang #SaveGaza itu tidak cuma angin lalu! Supaya... Ah! Banyak sekali! Memang beda, mental negara maju dengan negara yang cuma maunya maju. Sudahlah, kita lanjutkan.

Sampai pada obrolan tentang salah satu pejabat negara mengenai PPI (Persatuan Pelajar Indonesia). Bahwa pejabat negara tersebut dengan entengnya mengatakan bahwa mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri itu menghabiskan uang negara saja, tidak ada rasa nasionalismenya! Lebih baik dananya dipakai oleh para pejabat untuk kunjungan kerja ke laur negeri! Whats!!!! Membahas itu rasanya saya gondok pake banget.
Pertama, (sepengalaman saya menempuh pendidikan SD s.d. S1) pemerintah itu kurang perhatian, kurang penghargaan kepada yang namanya prestasi yang terkait ilmu pengetahuan. Padahal, padahal.... Bahkan seingat saya, dulu, sewaktu saya SMA, tim Olimpiade Matematika Indonesia tuh sampe telat berangkat untuk Olimpiade internasional gara-gara kelalaian pengurusan administrasi dan dipersulitnya keberangkatan! Bukan oleh siapa2 loh! Oleh bagian pemerintah sendiri! (Nah, bersyukur saya, waktu itu gak kepilih jd tim olimpiadenya, kalo kepilih, bisa-bisa saya gondoknya sampe pindah ke luar aje deh, hehe)

Kedua, biaya perjalanan untuk kunjungan kerja pejabat itu jauh-jauh-jauh lebih menghabiskan uang, dan hasilnya? Tetap! Tetap saja mata uang rupiah lebih rendah dari mata uang negara lain. fufufufu. Tetap saja peniti harus mengimpor. Tetap saja korupsi (ndak usahlah yah, bahas-bahas korupsi). Tetap saja terjadi keningnangan atau kesenjangan ekonomi. Tetap saja, banyaaaaak masalah nya ini Indonesia yang aku cinta.... Tetap saja Timnas kita kalah (loh?) Iyalah, gimana mau main dengan baik kalau semua serba dipolitisi! Lagipula, kunjungan kerja pejabat selama dua minggu kalau dihitung-hitung sama setara dengan biaya hidup pelajar indonesia di luar negeri selama 6 bulan! sekali lagi, 6 bulan! Dan kami (saya jg nanti, insya Allah) mahasiswa / pelajar di luar negeri, gak cuma duduk diem di kelas! Kami aktif melakukan penelitian, kami juga berusaha mengerti culture mereka (negara lain). Kami punya cita-cita, saat kembali, kami dapat membuat Indonesia lebih baik! Itu cita-cita kami! Sedangkan mereka? Entahlah semua sudah menjadi modus, menurut saya.

Ketiga, dan seterusnya mungkin kapan-kapan dilanjutkan lagi, karena saya sudah pegel ngetik, hehe.

Back to JASSO, pemerintah seperti Jepang (dan mungkin negara lain) ternyata sangat perhatian dengan masalah kecil seperti kehadiran mahasiswa asing di negeri mereka. Ada persyaratan minimal apartemen yang boleh dihuni atau disewa oleh mahasiswa asing. Khusus kampus saya, tidak boleh di apartemen murah, karena dikhawatirkan mengganggu konsentrasi belajar mahasiswa. Dan mengenai rapelan? Saya juga gak ngerti kenapa mesti dirapel, jangan-jangan dibungakan dulu, atau didepositokan dulu (Suudzon ya, saya? astagfirullah), entahlah.

Kamis, 15 November 2012

3 Care, T_T

Kesel sebenernya udah campur aduk deh perasaan di hari selasa, 15 November itu..
Hujan gedeeee banget, alhamdulillah gw udah di dalem plaza semanggi, pake nyasar pula lagi... Semua ini gara-gara patas AC 44 yang gak lewat sudirman, dia lewat slipi, gw gak tau deh, itu tau-tau muncul di mana, gak ngertiiiii....Akhirnya gw turun aja di tol senayan, paraaah...
Dan gw jalan jauhhhh banget dari tol senayan ke semanggi ngelewatin bendungan hilir, hufth...
Rasanya mau nangis aja, tapi gak apa-apa, emang gw yang gak mau bawa motor, padahal udah dizinin, gak tau, rasanya badan lemes banget.
Singkat cerita, gw sampe plaza semannggi dengan kaki gemetaran dan  langkah gontai.... Haus pula.
Ini semua karena 3 care. Karena gw merasa dipermainkan sama 3, sama nomor kesayangan gw ituh, yang udah 4 tahun nemenin gw kuliah dan udah 2 kali ganti kartu, pertama registrasi pascabayar, kedua, karena kartu hilang, kecopetan.
Dan akhirnya, gara-gara si BB gw itu, gw putusin untuk ganti simcard, kadang muncul kadang gak muncul tuh lambang BB di samping lambang 3G gw....
Diledekin sama mas-masnya, gara-gara gw nangis,,,hiks,hiks, gimana gak sedih juga, masa gw harus ganti kartu? haduuuh repot banget kan....

Senin, 12 November 2012

"Kak"

Dia tak memintaku tuk datang.
Tapi aku tak kuasa menahan langkah kaki, menujunya.
Ada semacam sesak yang tertahan, seminggu lamanya.
Sesak itu dimulai saat aku harus pergi, tidak berjumpa dengannya.
Kemudian baru aku tahu, itu yang dinamakan rindu.
Tapi aku coba menepisnya.
Aku, tak mungkin miliki rasa yang selembut itu.

Pintu dibukanya.
Ah, senangnya aku saat itu.
Ia menyambutku dengan sumringah.
Senyumnya yang bekaskan kesejukan dan surutkan sesak.

"Kak"
Ada ketentraman saat dia sebutkan kata itu.
Kemudian dia ceritakan banyak hal, padaku.
Saat itu waktu terasa berjalan begitu cepat,
padahal aku masih ingin berlama bersamanya.

Sampai ketika pembicaraan terhenti pada satu hal.
Buatnya menitikkan air mata.
Aku terdiam, tak mengerti apa yang harus aku lakukan,
padanya yang panggil aku 'Kak'.
"Aku merasa seperti tidak punya sesuatu."
"Hei! kamu punya aku!"~ tapi itu hanya teriakku dalam hati.
Aku masih diam memperhatikan setiap detailnya.

Aku berusaha menggerakkan tanganku,
tapi hanya sebatas memegang punggung tangannya.
"Aku tak seperti Kakak yang punya semangat untuk mendasari semua."
Kemudian air matanya menderas.
Tak kuasa aku melihatnya.
Hampir saja aku ikut terlarut dalam tangisnya.
Tapi untungnya tidak.
Aku masih dapat membendungnya.
Sudah lama sekali aku tak merasakan ini.
Ada getaran, ada sesak, ada haru, ada candu...

Aku yang sebenarnya tergugup menghadapinya saat itu.
Coba usap lembut punggung tangannya.
Mungkin itu tak berarti baginya.
Hanya itu yang bisa aku lakukan.
Inginku sungguh memeluknya dengan eratnya.
Menghapus air mata di wajahnya dengan lembutnya.
Tapi aku tak juga bergerak.
Aku tak berani.
Aku takut salah.
Dia sudah menjadi terlalu istimewa di sini, di hatiku.

"Jangan menangis lagi."
Akhirnya aku dapat berkata walau terbata.
"Aku tidak menemukan sesuatu yang buatku semangat melakukan apapun, Kak."
Dia kemudian melanjutkan bicara di antara isaknya.
"Memangnya kamu mencari apa?"
Aku tak tahu lagi, mengapa pula aku harus bertanya.
Aku terlalu kaku saat itu, kuakui.
"Aku tidak tahu, Kak."
Dia mengusap air matanya dengan tangan kirinya.
Sedangkan tangan kanannya masih kugenggam.

"Bagaimana kita dapat mencari sesuatu sedangkan kita tak tahu apa yang kita cari..."
Ah, aku semakin kesal pada diriku sendiri.
Mengapa pula aku malah menceramahinya.
Aku menyesal saat itu.

Sampai air matanya mereda, aku tersadar pada satu simpulan.
Aku begitu menyayanginya.

Rabu, 03 Oktober 2012

Waktu

Andai saja Sang Penguasa waktu berikanku kemampuan, 
kan kuputar kembali waktu. 

Bukan, bukan untuk mengikatmu dengan kuatnya. 
Tapi untuk menghindarimu. 

Agar aku tak dipertemukan denganmu, 
tak melihatmu, 
dan usah berharap dapat bersama.

Agar tak kurasakan luka di setiap merindumu.

Senja


Adu argumen sore tadi ternyata mampu membuatku kacau. Aku bersegera meninggalkan auditorium dan menuju kamarku untuk berganti pakaian santai. Tak lupa aku kaitkan jaket pada lenganku. Aku berjalan bergegas menuju tempat di pinggiran pantai, perkiraanku masih termasuk garis pantai Anyer. Kemarin, tempat itu hanya dapat kunikmati dari view kamar hotel Patrajasa.

Sepanjang jalan menuju tempat itu buliran pasir masuk ke dalam alas kakiku. Menyentuh kulitku. Terasa hangat. Pasir pantai itu sepertinya menyerap pancaran panas matahari sejak pagi. Tapi aku sama sekali tak merasa risih dengan hal itu. Aku selalu suka matahari. Betapapun peluh berjatuhan saat terik, matahari selalu memberikan kenangan indah di akhir sebelum pada akhirnya menyisakan kegelapan dalam lelap. Ya, kenangan indah itu adalah senja.

Saat akhirnya deburan ombak sampai menghempas kakiku, aku tersenyum dan terus mengayunkan langkah. Buliran pasir yang kering dan hangat kini tergantikan oleh hempasan pasir basah yang dibawa ombak. Menghantarkan kesejukan dalam setiap dinginnya butir-butir pasir menyentuh kulit kakiku. Angin yang menerpa, mampu membuat bibirku bergemetaran menahan dinginnya. Sambil terus berjalan kukenakan jaket. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket dan mulai menikmati senja.

Jarak aku dengan tempat itu semakin dekat,  semakin jelas bebatuan besar yang tersusun acak yang dari jauh aku hanya melihatnya sebagai  tumpukan batu. Tapi kini aku melihat detail. Kusempatkan menyentuh permukaan salah satu batu dan aku coba merasakannya. Lembut, licin, pada beberapa bagian terasa kasar, tapi kemudian ada kelembutan. Ah, ternyata lumut-lumut itu menutupi sebagian permukaan batu. Sebagiannya lagi mungkin terhempas ombak saat pasang membuat kerapuhan yang kurasakan kesat tadi. Dan akhirnya aku menoleh ke arah bagian lain dari tumpukan batu. Tempat yang sedari kemarin menarik perhatianku, dan menyihirku untuk berjanji mendatangi tempat ini ketika senja datang.

Persis seperti yang kuduga, aku dapat menikmati senja secara sempurna di tempat ini. Berbeda dari pantai rekreasi. Jauh dari kebisingan. Pasirnya ternyata begitu lembut. Gemas rasanya aku melihatnya. Kurentangkan jemari tanganku. Kemudian aku masukkan kedua tanganku ke dalam pasir-pasir lembut itu, kutarik, membentuk jejak jemari di atas hamparan pasir. Sungguh lepas perasaanku sore itu. Aku duduk di hamparan pasir lembut itu, menikmati angin, menikmati matahari di batas cakrawala, menikmati senja. Kurentangkan jemari tanganku, kemudian kedua tanganku kujadikan tumpuan di belakang. Kutengadahkan wajah, semburat merah di langit nampak begitu menyala, begitu hidup, begitu bebas. Kembali pandanganku terkait pada matahari yang benar-benar akan tenggelam dalam batas cakrawala, warnanya memengaruhi warna air laut sepertinya laut itu airnya telah berubah menjadi jingga karena merahnya matahari saat senja. Kupejamkan mata, senyummu muncul di sana, tawamu terdengar begitu renyah. Tapi kemudian aku kembali membuka mata telingaku hanya menangkap suara deburan ombak. Semua seperti membias, aku terhanyut dalam senja hari itu, aku terbawa seperti matahari. Aku tenggelam menyusul kedamaian, mengenangmu.