Labels

daniera (118) kanazawa (7) nada (92) pengetahuan umum (6) profesi guru (1) puisi (16) skripsi (1)

Minggu, 14 Oktober 2012

Hey Soul Sister - Train

Hey, hey, hey

Your lipstick stains on the front lobe of my left side brains
I knew I wouldn't forget you, and so I went and let you blow my mind
Your sweet moonbeam, the smell of you in every single dream I dream
I knew when we collided, you're the one I have decided who's one of my kind

Hey soul sister, ain't that Mr. Mister on the radio, stereo, the way you move ain't fair, you know!
Hey soul sister, I don't want to miss a single thing you do...tonight
Hey, hey,hey

Just in time, I'm so glad you have a one-track mind like me
You gave my life direction, a game show love connection we can't deny
I'm so obsessed, my heart is bound to beat right out my untrimmed chest
I believe in you, like a virgin, you're Madonna, and I'm always gonna wanna blow your mind

Hey soul sister, ain't that Mr. Mister on the radio, stereo, the way you move ain't fair, you know!
Hey soul sister, I don't want to miss a single thing you do...tonight

The way you can cut a rug, watching you's the only drug I need
So gangsta, I'm so thug, you're the only one I'm dreaming of
You see, I can be myself now finally, in fact there's nothing I can't be
I want the world to see you be with me

Hey soul sister, ain't that Mr. Mister on the radio, stereo, the way you move ain't fair, you know!
Hey soul sister, I don't want to miss a single thing you do...tonight.


Hey, hey,hey
Tonight
Hey, hey,hey
Tonight

Rabu, 03 Oktober 2012

Waktu

Andai saja Sang Penguasa waktu berikanku kemampuan, 
kan kuputar kembali waktu. 

Bukan, bukan untuk mengikatmu dengan kuatnya. 
Tapi untuk menghindarimu. 

Agar aku tak dipertemukan denganmu, 
tak melihatmu, 
dan usah berharap dapat bersama.

Agar tak kurasakan luka di setiap merindumu.

Senja


Adu argumen sore tadi ternyata mampu membuatku kacau. Aku bersegera meninggalkan auditorium dan menuju kamarku untuk berganti pakaian santai. Tak lupa aku kaitkan jaket pada lenganku. Aku berjalan bergegas menuju tempat di pinggiran pantai, perkiraanku masih termasuk garis pantai Anyer. Kemarin, tempat itu hanya dapat kunikmati dari view kamar hotel Patrajasa.

Sepanjang jalan menuju tempat itu buliran pasir masuk ke dalam alas kakiku. Menyentuh kulitku. Terasa hangat. Pasir pantai itu sepertinya menyerap pancaran panas matahari sejak pagi. Tapi aku sama sekali tak merasa risih dengan hal itu. Aku selalu suka matahari. Betapapun peluh berjatuhan saat terik, matahari selalu memberikan kenangan indah di akhir sebelum pada akhirnya menyisakan kegelapan dalam lelap. Ya, kenangan indah itu adalah senja.

Saat akhirnya deburan ombak sampai menghempas kakiku, aku tersenyum dan terus mengayunkan langkah. Buliran pasir yang kering dan hangat kini tergantikan oleh hempasan pasir basah yang dibawa ombak. Menghantarkan kesejukan dalam setiap dinginnya butir-butir pasir menyentuh kulit kakiku. Angin yang menerpa, mampu membuat bibirku bergemetaran menahan dinginnya. Sambil terus berjalan kukenakan jaket. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket dan mulai menikmati senja.

Jarak aku dengan tempat itu semakin dekat,  semakin jelas bebatuan besar yang tersusun acak yang dari jauh aku hanya melihatnya sebagai  tumpukan batu. Tapi kini aku melihat detail. Kusempatkan menyentuh permukaan salah satu batu dan aku coba merasakannya. Lembut, licin, pada beberapa bagian terasa kasar, tapi kemudian ada kelembutan. Ah, ternyata lumut-lumut itu menutupi sebagian permukaan batu. Sebagiannya lagi mungkin terhempas ombak saat pasang membuat kerapuhan yang kurasakan kesat tadi. Dan akhirnya aku menoleh ke arah bagian lain dari tumpukan batu. Tempat yang sedari kemarin menarik perhatianku, dan menyihirku untuk berjanji mendatangi tempat ini ketika senja datang.

Persis seperti yang kuduga, aku dapat menikmati senja secara sempurna di tempat ini. Berbeda dari pantai rekreasi. Jauh dari kebisingan. Pasirnya ternyata begitu lembut. Gemas rasanya aku melihatnya. Kurentangkan jemari tanganku. Kemudian aku masukkan kedua tanganku ke dalam pasir-pasir lembut itu, kutarik, membentuk jejak jemari di atas hamparan pasir. Sungguh lepas perasaanku sore itu. Aku duduk di hamparan pasir lembut itu, menikmati angin, menikmati matahari di batas cakrawala, menikmati senja. Kurentangkan jemari tanganku, kemudian kedua tanganku kujadikan tumpuan di belakang. Kutengadahkan wajah, semburat merah di langit nampak begitu menyala, begitu hidup, begitu bebas. Kembali pandanganku terkait pada matahari yang benar-benar akan tenggelam dalam batas cakrawala, warnanya memengaruhi warna air laut sepertinya laut itu airnya telah berubah menjadi jingga karena merahnya matahari saat senja. Kupejamkan mata, senyummu muncul di sana, tawamu terdengar begitu renyah. Tapi kemudian aku kembali membuka mata telingaku hanya menangkap suara deburan ombak. Semua seperti membias, aku terhanyut dalam senja hari itu, aku terbawa seperti matahari. Aku tenggelam menyusul kedamaian, mengenangmu.

Senin, 01 Oktober 2012

Perahu Kertas - Maudy Ayunda


Perahu kertasku kan melaju
Membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila
Tapi ini adanya

Perahu kertas mengingatkanku
Betapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri

Hidupkan lagi mimpi-mimpi
(cinta-cinta) cita-cita
Yang lama ku pendam sendiri
Berdua ku bisa percaya

Reff:
Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Tiada lagi yang mampu berdiri halangi rasaku
Cintaku padamu…