Labels

daniera (118) kanazawa (7) nada (92) pengetahuan umum (6) profesi guru (1) puisi (16) skripsi (1)

Jumat, 10 Februari 2012

Tertatih - Kerispatih


Aku berjalan di dalam kesendirian
Aku mencoba tak mengingatmu dan mengenangmu
Aku tlah hancur lebih dari berkeping-keping
Karna cintaku karna rasaku
yang tulus padamu.

Begitu dalamnya aku terjatuh
dalam kesalahan rasa ini.

reff:
Jujur aku tak sanggup, aku tak bisa
aku tak mampu dan aku tertatih.
Semua yang pernah kita lewati
tak mungkin dapat ku dustai
meskipun harus tertatih.
Begitu dalamnya aku terjatuh
dalam kesalahan rasa ini.

repeat reff
Aku tak sanggup, aku tak bisa
Aku tak mampu dan aku tertatih
Semua yang pernah kita lewati
tak mungkin dapat ku dustai
meskipun harus tertatih.

Jumat, 03 Februari 2012

Kucing dan Seorang Ibu

Pagi itu, seperti biasa, aku tergesa. Ini semua bermula karena kakakku, secara mendadak membangunkanku, yang telah tidur lagi (sesi 2) sehabis solat subuh.
"De! Kebon Jeruk! Cepet! Telat nih!"

Aku langsung bergegas dan bersiap mengantar kakakku yang sudah tiga perempat panik itu. Mata sebenarnya masih mengantuk, setelah semalaman bergadang menyelesaikan tugas dan laporan. Tapi, demi melihat kakakku yang hampir-hampir full paniknya, semua sirna begitu saja. Ditambah matahari pagi yang menyengat dan menyegarkan setiap pori kulitku.

Memacu kecepatan di tengah kemacetan Jakarta pagi hari, sungguh membuat mataku melotot, mengawasi setiap badan jalan. Tidak sampai 20 menit, Ciledug-Kebon Jeruk akhirnya kurampungkan.

Perjalanan pulang aku lebih memilih slow speed - melaju santai. Karena sepertinya saat berangkat tadi aku kehabisan napas, terengah. Tidak seperti biasanya, aku sengaja memilih lewat jalur kompleks DKI, padahal biasanya aku lewat Joglo.

Masih dengan ramainya lalu lalang orang-orang sibuk berangkat kerja, yang memilih jalur pintas melewati komplek DKI. Ada sesuatu di badan jalan sebelah kanan. Mataku menangkapnya sebagai suatu gerakan-gerakan kecil menggeliat. Tapi, tak jelas, saat itu aku tidak memakai kacamataku yang baru, karena masih terasa faktor koreksi yang terlalu tinggi.

Aku sempatkan fokus melihat, dengan melaju sekitar 5 km/jam. Ah! Ternyata yang menggeliat itu seekor kucing kecil (kitten). Miris! Sungguh memerihkan mataku melihat keadaannya itu. Ia tidak dapat menggerakkan kaki belakangnya yang sebelah kiri, kalau tidak salah. Ah!!! Sampai terpejam mataku beberapa saat kutahu ternyata kakinya sebelah itu agak rata dengan badan jalan. Siapa yang begitu tega menggilasnya?!!! Rasanya aku mau marah. Aku, saat itu sudah menepikan motorku. Tiba-tiba saja seorang ibu, datang dari arah gang kecil. Dengan agak panik sambil berteriak apa, tidak jelas terdengar olehku. Dia menaruh barang belanjaannya di gardu terdekat, kemudian dia menggendong kucing kecil itu, memindahkannya ke tepi, ke tempat yang agak sepi dan terlindung dari keramaian.

Aku, sedikit lega. Aku sangat berterima kasih sekali kepada ibu itu. Aku, berlalu dari komplek DKI pagi itu. Pagi yang menyisakan perih dalam hati. Ada orang yang begitu tega menggilas kucing kecil yang lucu, yang belum dapat berlari dengan baik. Ah! Di mana hati nurani mereka. ataukah mereka tidak melihat kucing kecil itu? Atau memang sudah demikian takdir kucing kecil itu.... Yang jelas pagi itu amat pedih di hatiku....


Rabu, 01 Februari 2012

Bukan Itu

Kamu mungkin kesal saat aku seolah tak percaya katamu.
Tapi, bukan itu maksudku.

Kamu mungkin gerah dengan pertanyaan berulang dariku.
Tapi, bukan itu maksudku.

Kamu mungkin bosan dengan kalimat rinduku.
Tapi, bukan itu maksudku.

Kamu mungkin tidak suka dengan sayangku yang terlalu.
Tapi, bukan itu maksudku.

Kamu mungkin jera bercerita padaku, setelah saat itu.
Sungguh! Bukan itu maksudku.

Bukan inginku buatmu kesal.
Bukan maksudku buatmu bosan.
Bukan harapku buatmu jera.
Bukan itu semua...

Aku hanya ingin sebuah repetisi. Ya, pengulangan.
Agar lebih banyak kudengar suaramu.

Aku hanya ingin menjadi satu alasanmu.
Agar aku tahu bahwa aku istimewa di hatimu.

Aku saat itu, khawatir berlebihan terhadapmu,
tiadakah kamu hargai kejujuranku saat itu?

Aku yang sampai saat ini merasa bersalah kepadamu.
Atas yang kulakukan. Maafkan aku.
Bukan maksudku, sungguh bukan maksudku...