Labels

daniera (118) kanazawa (7) nada (92) pengetahuan umum (6) profesi guru (1) puisi (16) skripsi (1)

Senin, 12 November 2012

"Kak"

Dia tak memintaku tuk datang.
Tapi aku tak kuasa menahan langkah kaki, menujunya.
Ada semacam sesak yang tertahan, seminggu lamanya.
Sesak itu dimulai saat aku harus pergi, tidak berjumpa dengannya.
Kemudian baru aku tahu, itu yang dinamakan rindu.
Tapi aku coba menepisnya.
Aku, tak mungkin miliki rasa yang selembut itu.

Pintu dibukanya.
Ah, senangnya aku saat itu.
Ia menyambutku dengan sumringah.
Senyumnya yang bekaskan kesejukan dan surutkan sesak.

"Kak"
Ada ketentraman saat dia sebutkan kata itu.
Kemudian dia ceritakan banyak hal, padaku.
Saat itu waktu terasa berjalan begitu cepat,
padahal aku masih ingin berlama bersamanya.

Sampai ketika pembicaraan terhenti pada satu hal.
Buatnya menitikkan air mata.
Aku terdiam, tak mengerti apa yang harus aku lakukan,
padanya yang panggil aku 'Kak'.
"Aku merasa seperti tidak punya sesuatu."
"Hei! kamu punya aku!"~ tapi itu hanya teriakku dalam hati.
Aku masih diam memperhatikan setiap detailnya.

Aku berusaha menggerakkan tanganku,
tapi hanya sebatas memegang punggung tangannya.
"Aku tak seperti Kakak yang punya semangat untuk mendasari semua."
Kemudian air matanya menderas.
Tak kuasa aku melihatnya.
Hampir saja aku ikut terlarut dalam tangisnya.
Tapi untungnya tidak.
Aku masih dapat membendungnya.
Sudah lama sekali aku tak merasakan ini.
Ada getaran, ada sesak, ada haru, ada candu...

Aku yang sebenarnya tergugup menghadapinya saat itu.
Coba usap lembut punggung tangannya.
Mungkin itu tak berarti baginya.
Hanya itu yang bisa aku lakukan.
Inginku sungguh memeluknya dengan eratnya.
Menghapus air mata di wajahnya dengan lembutnya.
Tapi aku tak juga bergerak.
Aku tak berani.
Aku takut salah.
Dia sudah menjadi terlalu istimewa di sini, di hatiku.

"Jangan menangis lagi."
Akhirnya aku dapat berkata walau terbata.
"Aku tidak menemukan sesuatu yang buatku semangat melakukan apapun, Kak."
Dia kemudian melanjutkan bicara di antara isaknya.
"Memangnya kamu mencari apa?"
Aku tak tahu lagi, mengapa pula aku harus bertanya.
Aku terlalu kaku saat itu, kuakui.
"Aku tidak tahu, Kak."
Dia mengusap air matanya dengan tangan kirinya.
Sedangkan tangan kanannya masih kugenggam.

"Bagaimana kita dapat mencari sesuatu sedangkan kita tak tahu apa yang kita cari..."
Ah, aku semakin kesal pada diriku sendiri.
Mengapa pula aku malah menceramahinya.
Aku menyesal saat itu.

Sampai air matanya mereda, aku tersadar pada satu simpulan.
Aku begitu menyayanginya.

1 komentar: