Labels

daniera (118) kanazawa (7) nada (92) pengetahuan umum (6) profesi guru (1) puisi (16) skripsi (1)

Senin, 14 Oktober 2013

Surat Cinta 1

Surat ini kutuliskan untukmu, wahai rasul Allah, solawat dan salam selalu tercurah untukmu, semoga kelak aku mendapatkan syafaatmu.

Ya rasulullah, di malam idul Adha ini, sungguh tak bisa kutahan lagi. Begitu banyak perasaan perih dan pilu mendengar berita tentang negeriku. Kecewa, sedih, marah, kesal, semuanya menjadi suatu kesatuan yang buatku terkadang sulit tertidur dengan tenang.

Ya rasulullah, engkau adalah manusia yang paling mulia di sisi-Nya, sesungguhnya segala petunjuk dalam menjalani kehidupan telah kau berikan. Indonesia, iya, Indonesia adalah negeriku, ya rasul Allah. Di Indonesia umatmu memiliki kapasitas jumlah yang dominan, yang mayoritas, yang banyak sekali. Tapi, sungguh pilu aku mendengar semua tentang negeriku sendiri ya rasul... Saat suatu provinsi telah dikuasai oleh satu keluarga, saat semua pejabat tak lagi memegang keyakinan agama yang dianutnya, tak lagi menjalankan amanat sebagaimana yang seharusnya diteladani darimu, wahai rasul Allah. Sungguh pilu...

Wahai manusia yang paling sempurna, adakah satu keyakinanku dapat mengubah suatu ketidakberesan itu semua? Apakah tekad memperbaiki itu dapat menyebar dari orang-orang yang tengah merindukanmu juga merindukan-Nya kini di Indonesia? Belakangan ini banyak orang-orang yang dekat denganmu, dekat dengan-Nya, begitu cepat mereka dipanggil kembali, untuk bersegera berada di sisi-Nya. Apakah karena Dia yang Maha Kuasa tahu, bahwa bangsa Indonesiaku tak dapat diperbaiki lagi? Sehingga Dia sang Khalik tak ingin menempatkan manusia yang mencintai-Nya berada di tengah-tengah bangsa yang sedang carut-marut ini, ya rasulullah? Mengapa....

Wahai engkau manusia yang paling bersinar, aku sadari jauh sekali moral bangsa dari nilai-nilai Islam yang engkau ajarkan, ya, jauh sekali dari jumlah orang-orang yang mengaku Islam, sungguh malu aku. Di manakah yang salah? Ya rasul, sebagian aku adalah pendidik, pendidik bagi anak-anakku kelak dan pendidik bagi siswa-siswaku, mahasiswa-mahasiswaku kelak, dan sebagian besar pemuda yang nantinya melanjutkan keberadaan bangsa ini... Apa yang harus kulakukan? Saat semua karakter muslim yang harusnya dibentuk bahkan sejak sebelum sekolah dasar, sirna begitu saja saat memasuki dunia yang sesungguhnya. Apakah bangsaku sudah tak memiliki harapan? Ah, sungguh mengerikan sekali karena sampai saat ini negeriku masih sesuai dengan tulisan A.A. Navis, iya, dalam tulisannya "Robohnya Surau Kami." Mengapa pula tulisan puluhan tahun lalu itu tetap sama, bukankah itu menandakan suatu kemunduran suatu bangsa? Saat banyak yang tak lagi peduli pada ajaran agama, tak lagi jalankan apa yang kau contohkan hanya dunia yang mereka kejar, di saat yang bersamaan ada pula mereka yang begitu menggila pada janji-Nya kemudian tak lagi peduli pada dunia, tak lagi peduli pada keluarga, masa bodoh pada masa depan bangsa, tak lagi hiraukan harga diri, karena yang mereka yakini hanya dengan memuji-Nya kemudian surga jaminannya? Padahal Dia yang Maha Suci sungguh tak gila pada pujian. Ah, yang seperti itu tulisan puluhan tahun lalu, kemudian "Haji Soleh" itupun tetap terlempar di dasar neraka api yang panas. Dan sekarang, dan sekarang bahkan banyak yang menjalankan ibadah kepada-Nya bukan lagi menggila pada janji-Nya, bahkan dengan beraninya memamerkan bahwa semua itu adalah topeng belaka. Ah, sungguh mau jadi apa bangsaku kelak.

Wahai engkau manusia teladannya manusia, aku berharap aku dapat membuat perubahan sekecil apapun pada anak-anakku kelak, pada siswa-siswaku, mahasiswa-mahasiswaku kelak, menyadarkan semua, bahwa sudah saatnya bangsa ini bangkit dari keterpurukan, bahwa banyak hal yang perlu diperbaiki, bahwa butuh waktu yang tidak sebentar untuk membangun semua itu, bahwa waktu itu tak akan pernah terkejar jika tak pernah dimulai...

Wahai rasul rahmat semesta alam, sungguh aku malu mengadukan ini, sungguh malu, tapi aku tahu, masih ada harapan untuk bangsaku, masih ada.

Surat cinta ini, dariku, yang merindumu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar