Labels

daniera (118) kanazawa (7) nada (92) pengetahuan umum (6) profesi guru (1) puisi (16) skripsi (1)

Senin, 20 Desember 2010

Kekalutan di Senin Malam

Lelah, pusing, lapar, haus juga... Tapi yang jelas kurasakan puas, walaupun masih banyak yang dicoret karena salah oleh dosen pembimbingku,,, tak apa, perkara kecil untuk melakukan revisi. Namun, setelah selesai membeli kertas, ku masuk ke shelter transjakarta, UNJ. Tak lama menunggu, transjakarta datang, banyak bangku yang kosong, aku memilih duduk di depan. Begitu duduk, 'zing...' tj langsung melaju dengan kencangnya, kuperhatikan jalan, ternyata kosong, tidak ada tanda kemacetan, hmmmhhh tumben... Tak terlalu lama kuperhatikan jalan, mataku perih, sehingga kududuk sambil terkantuk.
Ponselku bergetar, nomor asing, bukan karena tidak kusimpan, tetapi karena baru ganti ponsel, dan semua nomor tersimpan dalam memori ponsel lama. Sudah kuperkirakan ternyata mom telpon. Banyak hal yang ditanyakan, namun ku terlalu lelah aku tak mengerti sedikitpun apa yang dibicarakan mom.... Dan sampai pada akhirnya mom tersadar diriku tidak 'mudeng.' Akhirnya mom menghentikan pembicaraan, dan aku masih dengan jawaban 'iya, iya' atau 'iya, nanti, nati ya'. Hufth...
Ternyata sudah di Dukuh Atas dan harus transit tj ke jurusan BlokM. tidak ada antrian yg berarti, begitu mendapat tj BlokM, dua langkah kaki, tj langsung melaju, upz, hampir kuterjatuh karena memang tidak seimbang dan tidak konsentrasi, ngantuk.
Shelter Setia Budi langsung mendapat tempat duduk, alhamdulillah, namun, kembali aku kaget, tj melaju dengan sangat kencang, tidak main-main, sampai sakit perutku merasakan kecepatannya. Hmmm,,, tumben Jakarta tidak macet. Saat turun di shelter akhir, BlokM, banyak toko kelontong tutup, wah ada apa ini?!? aku menjadi pusing sendiri. Kulihat jam tanganku, wew! pukul 9malam, pantes saja!
Naik tangga jalur6, mencari metromini 69 jurusan ciledug yang masih menyisakan bangku untukku,,, lelah dan kantuk menjadi satu, membuatku terkantuk-kantuk di dalam metromini yg panas dan pengap itu,,, tak terasa ternyata kusampai di Cipulir,,, tidak macet karena memang sudah malam. Kubuka ponselku, ternyata ada sms mom,
"Mom benci kesibukan
karena dia kini memisahkan de dari mom.
de ga punya waktu lagi bwt nyapa mom.
de seperti orang asing"
Membacanya, kurasakan pipiku membasah, ternyata kutelah membuat mom tersakiti,,, Tapi, salahkah aku jika kumeminta sedikit saja pengertian bahwa ku sebenarnya butuh dukungannya, bukan inginku menyusun proposal dalam keadaan seperti ini, sedikiiit saja pengertian, mom...Tidakkah lagi kau merasakan rasa sayangku yg begitu tulus untukmu? Tidak menyatu lagikah jiwaku dalam jiwamu? Kau menyebutku orang asing...
Sampai kuturun dari metromini 69, air mata terus terurai...
"Ingin kuberlari namun terjatuhku, ingin kuberjalan namun tertatihku, ingin kumerangkak namun tersengalku, ingin kuberbaring namun sesakku,,,"
Bahkan saat kumenulis ini pun mataku masih basah. Ku tak menyangka mom begitu tega mengatakan aku seperti orang asing. Haruskah kuceritakan deritaku setiap pagi harus mual dan muntah... Haruskah kuberitakan sakitku setiap malam dalam setiap perjuanganku untuk lulus secepatnya, agar dapat dekat denganmu, mom,,, Haruskah ku beritahukan semua? Harusnya kau tahu itu, harusnya kau tahu isi hatiku, harusnya kau tahu rasaku, bukankah kau pernah mengatakan bahwa kau merasakan apa-apa yang kurasakan? Ku kecewa,,, bukan padamu, tapi padaku, yang telah membuatmu menilaiku asing, ku marah pada diriku, karena tak mampu mempertahankan diriku, sehingga terasa asing,,,,
Menyeberang jalan pun sulit, banyak kendaraan di depan gang ke rumah. Melihat truk besar melintas sepertinya ingin kutantang, kulangkahkan kaki, ingin mati saja perasaanku. Sepertinya kuterbebas dari rasa bersalahku,,, Tapi,,, ku telah berjuang selama beberapa hari ini, ku tidak ingin sia-sia, walaupun pada akhirnya membuatku menjadi orang lain, padahal kuselalu memimpikan ku dalam pelukanmu dalam dekapanmu yang hangat, namun ternyata itu tidak berlaku bagimu, mom,,,
de Luph mom,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar