Labels

daniera (118) kanazawa (7) nada (92) pengetahuan umum (6) profesi guru (1) puisi (16) skripsi (1)

Selasa, 10 Mei 2011

Buku yang Terbuka

*Posting ini untuk kamu yang pernah saksikan jatuhnya air mataku; menetes, berderai, ataupun terisak.

Sore itu saat kamu tanyakan satu pertanyaan, yang belum kunjung kamu ucapkan secara lengkap....

"Mmmhhh,,, kalo aku.... Eh, ga usahlah, ga jadi. Ga tau ya, kenapa tiba-tiba terpikir hal itu."
"Ya? katakan saja, pasti aku akan mendengarnya. Kenapa memangnya? kamu mau katakan 'akan pergi? begitukah?' hehehe"

Tawaku ternyata tak mampu mengubah raut wajahmu yang sulit kuartikan,,,.

"Iya, aku memang ingin katakan itu...." jawabmu pendek, aku terdiam sesaat sebelum kamu melanjutkan.
"Kalo tiba-tiba aku pergi, sedih ga?" Di wajahmu terpancar keseriusan, terlihat ada harapan agar aku dapat menjawabnya dengan segera.
"Ya sedih, sedih banget.... Sedih, sedih, sedih,,,," lama kelamaan suaraku lirih, sampai tak terdengar bahkan oleh telingaku sendiri.

Tanpa kuasaku, kedua tanganku reflek menutup kedua mataku, mengusap air mata yang mengalir begitu saja, dengan derasnya, aku tak menyangka, ternyata aku menangis! Ya, aku menangis di depan orang yang kusayangi, di hadapan orang yang kucintai, di depannya aku menangis, aku malu... Tak seharusnya aku menangis. Tak seharusnya. Aku tak mengerti.

Mungkin kukira kamu bercanda, saat tanyakan hal itu. Dadaku sakit, sesak, sulit tuk kutahan airmata, ku sudah terlanjur menangis, tak bisa kututupi kesedihanku, tak bisa kusembunyikan isakku. Tak bisa kuperlihatkan wajahku, aku tak mengerti mengapa aku menangis.

Yang terpikir saat itu hanyalah sebuah ketakutan, ketakutan karena kamu tanyakan hal itu secara serius, aku takut, kamu benar-benar pergi tinggalkanku, campakkanku yang telah benar-benar menjadi kebergantunganmu. Aku sayang kamu.

Melihatku seperti itu, mungkin untuk pertama kalinya kamu melihatku terisak, kamu panik.

"Hah? Aduh! Aku salah bicara? Maaf...."
"Maaf, maaf. maaf...."

Kemudian kamu memelukku, namun dalam keadaanku masih menutup mataku, tak mampu kuperlihatkan wajahku, tak sanggup kutunjukkan isakku.... Namun, seandainya kamu membaca posting ini, ada kebahagiaan yang kurasakan di tengah isakku yang sulit kuhentikan, di saat airmataku semakin derasnya.

Aku bahagia kamu memelukku dengan eratnya, sayangnya aku tak bisa membalas pelukmu saat itu, tanganku masih tersiaga menutupi kedua mataku. Aku bahagia, ya, aku bahagia, karena dengan memelukku, setidaknya kamu tidak inginkan aku menangis, kamu tak suka aku bersedih,,, Lebih dari itu, mudah-mudahan karena kamu menyayangiku. Aku sayang kamu, sangat sayang kamu....

Aku tersenyum, memaksakan agar bibirku memasang senyumku, namun, tetap saja aku tak bisa berakting saat itu, aku tak bisa berakting, tidak bisa apa-apa. Karena telah terjadi gejolak emosi dalam jiwaku. Hufth... tidak biasanya seperti ini, tidak seharusnya aku bersikap melankolis seperti ini di hadapanmu, maafkan aku. Harusnya aku bisa bersikap lebih dewasa dan tegar, bukan malah cengeng atau rapuh, maaf...

"Aku sayang kk, maaf tadi salah bicara"
"Tidak ada yang salah, sebenarnya, aku yang menanggapinya terlalu berlebihan, mungkin karena tak ingin kamu jauh dariku"

Aku sayang kamu, sayang, sayang, sangat sayang kamu, jangan pernah rencanakan tuk tinggalkanku, atau pergi tiba-tiba, atau campakkan aku...

Aku merasa seperti buku yang terbuka saat itu, merasa mudah terbaca, merasa terlalu transparan, aku tak suka menjadi seperti itu.


Buku yang terbuka,
buku yang terbuka di depanmu malah.
Tanpa perlu perhatian lebih, tanpa harus fokus,
tanpa perlu menyentuh buku itu.
Kamu dapat membaca isinya,
kamu dapat melihat isinya,
kamu tau bentuk dari setiap hurufnya,
Dan itu telah menjadi terlalu transparan,
Dan itu telah menjadi terlalu terbuka.
Dan aku tak suka menjadi buku yang terbuka
Terlalu mudah terbaca,
Membuatku menjadi tidak istimewa,
Membuatku menjadi tidak diperhatikan olehmu...

aku benci menjadi buku yang terbuka.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar