Labels

daniera (118) kanazawa (7) nada (92) pengetahuan umum (6) profesi guru (1) puisi (16) skripsi (1)

Jumat, 20 Januari 2012

Malam Itu...

Seperti yang kukatakan dalam pembicaraan di telepon siang itu. Aku tidak siap menghadapi ekspresimu, jika ku ceritakan langsung. Bagiku, ini adalah hal yang amat serius dan amat berdampak bagiku. Memberikan satu ketakutan. Tapi, ya..., yang penting bagiku, belum tentu penting juga untukmu. Dirimu teramat berarti untukku, teramat besar cintaku untukmu, tapi, ya..., belum tentu aku juga sama berartinya untukmu.
**** 

Malam itu, sedang terburu, dari bagian resepsionis hotel. Ada dua orang berdiri beriringan, dekat sekali di sampingku, sampai pada akhirnya aku tahu bahwa mereka ditugaskan untuk mengawalku. Agak aneh memang, tapi aku tidak bisa protes atau menyampaikan keberatan, karena mereka berdua seperti agak menyeretku untuk jalan lebih terburu. Sesaat hendak memasuki kamar hotel, aku seperti melihat kamu, dari belakang, aku hafal, ya, aku tau itu pasti kamu. Tapi aku tertahan demi kedua orang di sampingku tidak mencurigainya. 


Kemudian di dalam kamar, mereka membuka banyak berkas, sepertinya itu adalah pekerjaan untukku, tapi, kemudian, mereka mengatakan, aku mengerjakannya esok paginya, dan saat itu mereka mempersilakan  aku istirahat, 'di dalam kamar' tidak keluar selangkahpun. Ahh, sepertinya mereka tahu, jika aku keluar, aku pasti akan menghampirimu, karena kamar kamu, tepat berseberangan di kamarku. Saat itu, rasanya aku ingin mengamuk saja, semua gerakanku dibatasi. Dan, aku baru tersadar, mereka memonitor dan merekam kejadian di depan kamarku, ya, mereka memasang kamera pengintai.


Sampai akhirnya aku mendapatkan ide, aku katakan kepada mereka, saluran air di kamar itu rusak, dan aku harus menggunakan fasilitas di luar kamar itu. Mereka awalnya agak keberatan, aku tahu hal itu dari sikap mereka yang langsung memanggil pihak hotel untuk bersegera melakukan reparasi. Aku tertawa kecil dalam hati, pastinya pihak hotel akan lama memperbaikinya, karena aku sendiri yang telah membuat kerusakannya. Dan tidak mungkin juga pindah kamar, mereka telah mempersiapkan segalanya di kamar itu. 


Aku mendesak mereka, sampai akhirnya mereka setuju aku memakai fasilitas yang diperuntukkan bagi karyawan hotel. Mungkin mereka pikir aku tidak mungkin kabur atau entahlah. Aku masuk ke ruangan seperti dapur hotel. Entahlah. Untuk ke sana, aku tidak dikawal mereka, aku hanya diantar petugas. Sesaat sampai di dalam kamar mandinya, aku bersegera mengganti kostum, dan melewati bagian pipa-pipa saluran untuk keluar dari sana. Aku terus melewati pipa-pipa panjang itu, bising, banyak suara yang ditimbulkan dari mesin-mesin milik hotel. Ah, tapi aku tidak akan menyerah. Sampai akhirnya aku keluar di belakang hotel, semak belukar, dan baru tersadar, kakiku penuh dengan goresan. Aku terus berlari mencari jalan berputar. Dan ah! Aku sempat terjatuh beberapa kali, karena jalannya penuh dengan batu tajam dan lumpur. Tapi, aku terus berlari. Agar aku dapat masuk kembali ke hotel. Aku berpikir keras dan agak bingung juga, karena semua pakaianku kotor. 


Sampai akhirnya aku berhasil menyusup ke tempat seperti laundry hotel. Ya! Aku berhasil berpakaian lengkap, bersih, dan tidak akan menimbulkan kecurigaan. Aku meneleponmu dari telepon umum yang ada di hotel. Dan ternyata kamu benar sedang ada di hotel yang sama, kamarmu tepat berseberangan dengan kamarku. Terdengar nadamu yang sangat terkejut saat kukatakan dalam beberapa menit aku akan ke kamarmu.


Setelah pintu kamarmu terbuka, aku langsung menghambur masuk ke dalam. Sambil terbaring  di tempat tidurmu. Rupanya kamu sedang berlibur bersama temanmu, di sana, Seoul. Aku ceritakan bagaimana aku bisa sampai ke tempatmu, dan saat itu, aku agak kecewa. Kalimat pertama yang terucap darimu, 
"Kenapa memaksa? Kalau memang tidak diizinkan untuk bertemu dengan siapapun, kenapa sampai memaksakan diri cuma untuk ketemu aku? Kenapa? Tidak usah memaksa ketemu, kalau keadaannya seperti ini!"
Padahal aku kira setelah aku ceritakan semua, kamu akan memelukku, sambil obati luka memar di lututku. Saat itu, aku tahu, kamu teramat penting di hatiku, tapi, aku, belum tentu sama pentingnya di hatimu. Saat itu, aku terpaku diam, mencerna ucapmu, dadaku sakit sekali rasanya. Mual, pening, sulit kugambarkan. 
****


Aku terbangun tengah malam, sekitar pukul 01.00, hujan amat deras diiringi suara petir yang menggelegar. Aku mendapati keadaanku saat itu tengah menangis, dan kuraba lututku, agak sakit, aku lihat, dan aku terkaget-kaget, ternyata mimpi itu telah meninggalkan luka memar di lututku. Ah, kemudian aku raba dadaku, aku periksa, ternyata agak membiru juga. Aku tidak sedang bercanda. Aku juga tidak main-main. Entahlah. Sesak sepertinya, setiap kali aku mengingat mimpi itu, padahal durasinya terhitung pendek. Tapi, menyiratkan hatiku yang terpojokkan, bahwa sedikitpun kamu tidak mengharapkan bertemu, apalagi merindukanku. Semoga itu hanya di dalam mimpi itu saja. Dan kamu tahu? Untuk menuliskan mimpi 3 malam yang lalu di sini, aku menangis mengingat semua kronologinya. Tapi, tidak mungkin aku lakukan itu jika kuceritakan langsung padamu, bahkan ada kemungkinan kamu menertawakanku. Dan kamu akan katakan "Jangan pikirkan yang tidak penting." Entahlah. Bahkan aku tidak tahu yang penting dan tidak penting itu seperti apa, sejak aku sadar aku begitu dalam menyayangimu, dan semua hal bagiku kini teramat penting. :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar